akvindo
Loading ...

November 2024

Low-tar medium-nicotine cigarettes: a new approach to safer smoking.

Low-tar medium-nicotine cigarettes: a new approach to safer smoking. Akvindo

Abstract The logic of expecting people who cannot stop smoking to switch to cigarettes that have hardly any nicotine is questionable. Tar and nicotine yields of cigarettes available in Britain today correlate 0-93, and further reduction of tar intake is limited by the reluctance of smokers to tolerate similar reductions in nicotine. A new approach would be to aim at lowering tar yields of cigarettes from the present average of 18 mg to around 6 mg but maintaining nicotine yields at around 1-0 to 1-2 mg, which would be acceptable to most smokers. This approach requires that emphasis be placed on tar: nicotine ratios as well as on the absolute yields. These ratios for brands on sale in Britain today average 14-2 and range from 9-6 to 20-8. They provide an additional guide for comparing the relative harmfulness of different brands. For example, 35% of cigarette smokers in Britain smoke either Embassy Filter or Players No 6 Filter; by changing to John Player Carlton King Size they could reduce their tar intake by more than 20% without having to suffer any nicotine deprivation. Sumber bmj.com

Low-tar medium-nicotine cigarettes: a new approach to safer smoking. Read More »

E-cigarettes safer than smoking says long-term study

Akvindo E-cigarettes safer than smoking says long-term study

E-cigarettes are less toxic and safer to use compared to conventional cigarettes, according to research* published in Annals of Internal Medicine today (Monday).   “This study adds to growing evidence that e-cigarettes are a much safer alternative to tobacco, and suggests the long term effects of these products will be minimal.” – Alison Cox, Cancer Research UK Cancer Research UK-funded scientists found that people who swapped smoking regular cigarettes for e-cigarettes or nicotine replacement therapy (NRT) for at least six months, had much lower levels of toxic and cancer causing substances in their body than people who continued to use conventional cigarettes. For the first time, researchers analysed the saliva and urine of long-term e-cigarette and NRT users, as well as smokers, and compared body-level exposure to key chemicals.** Ex-smokers who switched to e-cigarettes or NRT had significantly lower levels of toxic chemicals and carcinogens*** in their body compared to people who continued to smoke tobacco cigarettes. But, those who used e-cigarettes or NRT while continuing to smoke, did not show the same marked differences, highlighting that a complete switch is needed to reduce exposure to toxins. Dr Lion Shahab, senior lecturer in the department of epidemiology and public health at UCL, and lead author of the publication, said: “Our study adds to existing evidence showing that e-cigarettes and NRT are far safer than smoking, and suggests that there is a very low risk associated with their long-term use. “We’ve shown that the levels of toxic chemicals in the body from e-cigarettes are considerably lower than suggested in previous studies using simulated experiments. This means some doubts about the safety of e-cigarettes may be wrong. “Our results also suggest that while e-cigarettes are not only safer, the amount of nicotine they provide is not noticeably different to conventional cigarettes. This can help people to stop smoking altogether by dealing with their cravings in a safer way.”   Alison Cox, Cancer Research UK’s director of cancer prevention, said: “Around a third of tobacco-caused deaths are due to cancer, so we want to see many more of the UK’s 10 million smokers break their addiction.” “This study adds to growing evidence that e-cigarettes are a much safer alternative to tobacco, and suggests the long term effects of these products will be minimal. “Understanding and communicating the benefits of nicotine replacements, such as e-cigarettes, is an important step towards reducing the number of tobacco-related deaths here in the UK.” Sumber news.cancerresearchuk.org

E-cigarettes safer than smoking says long-term study Read More »

Benarkah Produk Tembakau Alternatif Lebih Minim Risiko? Ini Studinya

Produk tembakau alternatif yang menggunakan Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) dinilai minim risiko dibandingkan dengan produk rokok konvensional. Hal ini didasarkan atas studi yang dilakukan Pusat Unggulan Iptek Inovasi Pelayanan Kefarmasian (PUIIPK) Universitas Padjadjaran. Dosen Fakultas Farmasi Unpad yang menjadi ketua penelitian Auliya A. Suwantika, PhD, MBA, Apt., menjelaskan, studi menghasilkan temuan positif bahwa tembakau alernatif dapat mengurangi risiko bagi para perokok. Bahkan, HPTL juga dapat mengurangi angka ketergantungan rokok. “Kami meninjau produk HPTL seperti, rokok elektrik, tobacco heating system (THS) dan snus dapat berperan dalam smoking reduction dan smoking cessation,” ungkap Auliya dalam rilis yang diterima Kantor Komunikasi Publik Unpad, Rabu (30/9). Studi yang dilakukan Auliya dan tim PUIIPK Unpad menunjukkan, produk tembakau alternatif yang menggunakan HPTL secara umum memiliki nilai risiko lebih kecil dibanding rokok konvensional. Risiko kecil juga dimiliki HPTL untuk aspek kejadian yang tidak diharapkan atau adverse event (AE). “Dari hasil studi penelusuran literatur secara sistematis yang telah dilakukan, nilai AE pada rokok elektrik atau e-cigarette (EC), tobacco heating system (THS) dan snus lebih kecil dibandingkan dengan rokok konvensional,” kata Auliya. Terkait hasil studi ini, Auliya menyarankan untuk dilakukan studi lanjutan yang lebih komprehensif. Hal ini dilakukan agar studi bisa menjadi rujukan bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan perihal HPTL. “Masyarakat juga didorong untuk beralih ke produk yang lebih rendah risiko,” tambahnya. Ketua PUIIPK Unpad Irma Melyani Puspitasari, M.Si., PhD, Apt., menjelaskan, para perumus kebijakan dapat melakukan studi lanjutan yang lebih komprehensif, seperti uji toksikologi, studi populasi, uji klinis, dan uji eksperimen terkontrol secara acak. Ini dilakukan agar regulasi mengenai pengurangan risiko HPTL dapat bermanfaat secara optimal. “Kami berharap studi ini dapat menjadi langkah awal yang baik untuk memahami potensi manfaat dan profil risiko HPTL,” kata Irma. Agar HPTL dapat dilihat secara menyeluruh, Irma mengharapkan lebih banyak riset klinis yang mengikutsertakan unsur pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat. “Semua ini harus dilakukan demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat dan produktif,” pungkasnya. Sumber Situs Resmi UNPAD

Benarkah Produk Tembakau Alternatif Lebih Minim Risiko? Ini Studinya Read More »

Atasi Masalah Rokok, Pusat Kajian Pengurangan Bahaya Dibangun di Unpad

Universitas Padjadjaran dan Universitas Catania, Italia, meluncurkan Center for Harm Reduction Research atau Pusat Kajian Pengurangan Bahaya. Guru Besar Ilmu Kedokteran Spesialis Penyakit Dalam Universitas Catania, Italia, Prof Riccardo Polosa menjelaskan, kerja sama ini sudah terjalin 5 tahun. Hal itulah yang melandasi keduanya meluncurkan pusat kajian pengurangan bahaya. Fasilitas tersebut diharapkan mampu mendorong para ilmuwan untuk terus berinovasi dan mengembangkan kajian ilmiah yang fokus pada pengurangan bahaya. “Selama ini, kita sudah melakukan kajian ilmiah berbasis risiko terkait penggunaan tembakau. Di masa depan, kami berkomitmen memperkaya kajian ilmiah serta program pertukaran mahasiswa untuk pelatihan terkait studi pengurangan bahaya,” kata tutur Polosa dalam rilisnya, Senin (16/9/2024). Polosa menekankan pentingnya perguruan tinggi dan pemerintah meningkatkan kajian ilmiah berbasis pengurangan bahaya demi menurunkan potensi kerugian di masyarakat. Sebagai contoh, perkembangan inovasi dan teknologi telah menghasilkan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan, yang mengimplementasikan konsep pengurangan bahaya. Kehadiran produk-produk lebih rendah risiko tersebut diharapkan dapat membantu negara-negara di dunia yang selama ini kesulitan dalam menurunkan prevalensi merokok. “Kita melihat selama bertahun-tahun bahwa pengendalian tembakau belum berhasil menurunkan kebiasaan merokok. Adanya produk tembakau alternatif yang menerapkan konsep pengurangan bahaya tembakau berkontribusi besar dalam mengurangi angka perokok, contohnya di Jepang, Inggris, Selandia Baru, dan Norwegia,” tambahnya. Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Prof Amaliya menambahkan, ke depan, hasil kolaborasi riset ini dapat menjadi salah satu referensi bagi pemerintah dalam menyusun regulasi untuk mengatasi permasalahan merokok. “Mungkin banyak yang bertanya, mengapa fokus pengurangan bahaya kami dimulai dari penggunaan tembakau. Sebab, kami melihat jumlah perokok di Indonesia itu ketiga terbesar di dunia dan itu sudah darurat,” kata Amaliya. “Jadi, kami berfokus pada pengurangan bahaya tembakau untuk mengurangi kerugian kesehatan akibat kebiasaan buruk merokok,” tambahnya. Tak hanya di lingkup Unpad, Amaliya berharap, kolaborasi kajian ilmiah berbasis pengurangan bahaya bisa dikembangkan dengan berbagai universitas di kawasan Asia Pasifik. “Kolaborasi adalah kunci, fokus kerja sama terkait pengurangan bahaya dengan berbagai perguruan tinggi akan meningkatkan kualitas dan hasil penelitian yang akan bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah sebagai upaya menekan kerugian ataupun acuan untuk membentuk regulasi,” pungkasnya. Sumber Kompas.com

Atasi Masalah Rokok, Pusat Kajian Pengurangan Bahaya Dibangun di Unpad Read More »